MENYIKAPI PANDANGAN MIRING TENTANG ORANG ACCOUNTING

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada hubungan tanpa cekcok. Apalagi ya? Tak ada profesi yang tidak mendapat pandangan ‘miring’. Apakah akuntan dan penggiat accounting boleh bebas dari premise yang satu ini? Jelas tidak. Disadari atau tidak, ada pandangan miring mengenai orang accounting—bahkan saya perkirakan sudah disandang sejak dibangku sekolah/kuliah.

Kabar bagusnya, sebagian besar pandangan miring tersebut sesungguhnya sangat positif—jika mau melihatnya lebih dalam, sekaligus bisa menjadi nilai jual tinggi—jika dikemas dengan baik. Dan ini sangat perlu untuk diketahui—terutama bagi teman-teman yang mudah ‘jatuh’ mental.

Nah apa saja pandangan miring tersebut dan bagimana menyikapinya—supaya berubah menjadi sesuatu yang positif, bahkan menjadi menguntungkan? Itu yang ingin saya share melalui tulisan ini. Samasekali tidak bermaksud menggurui, semata-mata hanya dalam konteks berbagi, tak lebih dan tak kurang.

(Catatan:pada dasarnya tidak pernah bermaksud memposisikan diri sebagai guru, melainkan sebagai tempat untuk berbagi dan berdiskusi di seputaran akuntansi, keuangan dan pajak).

Berikut ini adalah beberapa pandangan miring tentang orang accounting, sekaligus cara menyikapinya:

1. Orang Accounting itu RAJA/RATU PELIT!
Terlepas apakah dikotomi ‘pelit-atau-tak pelit’ ini penting atau tidak, pada kenyataannya ada anggapan bahwa: orang ekonomi rata-rata pelit. Nah kalau orang ekonomi dianggap rata-rata pelit, maka orang accounting adalah RAJA atau RATU-nya PELIT. Sudah berapa permintaan cash bon yang anda tolak?

“Susuk (uang kembalian belanja) permenpun dimasukan cash box, dasar ratu pelit!”, gerutu pegawai tukang belanja yang suatu ketika saya pergoki di lorong kantor. Hahahaha… .

Anggapan ‘orang-accounting-raja-dan-ratu-pelit’ ini sesungguhnya berangkat dari persepsi dasar bahwa orang accounting adalah orang-orang ekonomi ‘militan’. Dianggap militan karena accounting cenderung memang lebih rinci, lebih teknis jika dibandingkan dengan bidang lain di ekonomi (manajemen, misalnya), sudah mendekati ilmu murni.

Apakah sebutan ini buruk atau negatif? Saya justru ingin mengatakan: sebagai orang accounting, berbangga hatilah jika anda sampai dijuluki sebagai raja atau ratu pelit di kantor, apalagi jika sebutan itu datang dari atasan.

Mengapa harus bangga? Kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa “Pelit” adalah kodrat-nya orang accounting, di dalam perusahaan. Memang sudah seharusnya orang accounting itu pelit. Justru menjadi sangat aneh (bisa dibilang gagal) jika ada orang accounting yang tidak pelit. Bayangkan jika orang accounting tidak pelit:

* Pegawai minta cash bond lebih dari gajinya, dikasih.
* Vendor minta dibayar dimuka, padahal barangnya belum dikirim, dikasih.
* Pelanggan tidak bayar berbulan-bulan, padahal perusahan sudah kehabisan kas, dikasih.
* Pegawai belanja, uang kembaliannya dipakai buat jajan, dikasih.

Lho iya dong, kan supaya tidak pelit. Apa yang terjadi? Mungkin perusahaan segera ‘gulung-tikar’. Oleh sebab itu, berbanggalah mendapat julukan RAJA/RATU PELIT di kantor.

Yang penting jangan sampai cap raja/ratu pelit tersebut merembet ke wilayah pribadi. Pastinya akan tidak nyaman jika sampai mertuapun menyebut kita orang pelit. Atau sahabat dekat menganggap diri kita sebagai orang yang ‘perhitungan’—apa-apa maunya balance (ditraktir sekali, langsung balas traktir sekali):

* Sekali-kali traktir teman nonton setelah pulang kerja
* Sekali-kali bayarain teman makan di kantin, meskipun anda belum pernah di traktir
* Sekali-kali bawa oleh-oleh untuk mertua atau ipar, meskipun mereka tak pernah bawa oleh-oleh untuk anda.
* Sekali-kali jangan periksa isi dompet suami

Dan yang tak kalah pentingnya: sekali-kali manjakan diri sendiri dengan menikmati waktu atau beli sesuatu yang sangat diinginkan—mungkin pergi ke spa, atau shop till drop di akhir pekan. Bukan saja untuk mencegah kesan ‘ratu pelit’ lari ke ranah pribadi, tetapi pada kenyataannya anda memang berhak menikmati hasil kerja keras selama ini, bukan?

Sekalilagi dicap raja/ratu pelit di kantor—dalam artian, untuk urusan perusahaan, adalah hal yang positif. Jika anda tergolong ‘kurang pelit’, mulai sekarang biasakanlah untuk pelit. Itu sudah menjadi fungsi dasar anda di dalam perusahaan—untuk menjaga agar operasional perusahaan selalu mulus. Utamakan pengeluaran untuk aktivitas yang memberi nilai tambah, dan batasi pengeluaran yang tidak memberi nilai tambah.

2. Orang Accounting itu KAKU!
Pandangan miring berikutnya adalah: orang accounting itu rata-rata kaku—alias tidak fleksibel. Tidak mau kompromi, sekali bilang tidak bisa tetap tidak bisa. Apakah ini sesuatu yang negatif?

Tidak. Saya melihat karakter ini sebagai karakter yang assertive—memiliki pendirian yang teguh. Sebagai atasan, saya akan sangat kecewa jika suatu ketika menemukan staff saya di accounting berani melanggar kebijakan dan prosedur perusahaan.

Untuk sesuatu yang memang tdak diperbolehkan, harus tetap tidak diperbolehkan, meski apapun yang terjadi. Karakter dasar assertive (mungkin orang di luar memandang ini sebagai sifat yang kaku) sudah seharusnya dimiliki oleh orang accounting.

Oleh sebab itu, jika ada diantara teman-teman accounting yang masih lentur—mudah diseret kesana-kemari, mulai sekarang latih diri untuk bisa assertive. Caranya? Belajar mengatakan “Tidak”. Untuk di awal-awal, usahakan jawaban anda selalu tidak untuk apapun yang orang lain katakan:

* “Minta ini dong…” jawab: “tidak bisa!”
* “Boleh minta…” jawab: “tidak boleh!”
* “Tapi Pak A bilang…..” jawab: “tetap tidak bisa/tidak boleh!”

Nah kalau sudah mahir mengatakan tidak, baru pelan-pelan dilonggarkan—pilah-pilah, kapan saatnya bilang “tidak” dan kapan saatnya bilang ‘iya”.

Tetapi sama seperti pandangan miring sebelumnya (raja/ratu pelit), jangan sampai sikap assertive (kaku) ini terlalu mendominasi di wilayah pribadi. Ada sesuat yang dalam kehidupan pribadi (mau-atau-tidak mau) harus dikompromiskan—terkadang harus mengalah.

* Sesekali katakan ‘iya’ ketika suami/istri di rumah mengusulkan untuk makan malam di rumah makan favoritnya, meskipun mungkin itu bukan tempat makan favorit anda.
* Sesekali bantu teman yang sedang kerepotan membawa barang belanjaan di mall.
* Sesekali biarkan istri santai-santai, gantikan tugasnya untuk memasak atau membersihkan rumah di akhir pekan.
* Dan lain sebagainya.

3. Orang Accounting Itu CEREWET!
Sudah menjadi karakter dasar orang accounting untuk tidak mudah percaya begitu saja terhadap banyak hal—terutama sekali dengan transaksi keuangan yang mungkin nilainya ratusan juta jika tidak miliran setiap harinya.

Serinkali bukti transaksi saja tidak cukup bagi orang accounting. Sudah diberi nota masih bertanya—ini belanja untuk apa? Sudah ada approvalnya belum? Siapa yang menyetujui? Mana barangnya? Seberapa sering belanja barang beginian? Berapa lama barang ini dipakai? Apakah sparepartnya mahal atau murah? Susah atau gampang carinya? Pokoknya buanyak bener dah pertanyaannya.

Bagi orang yang tidak biasa menghadapi orang accounting, dicecar pertanyaan dengan cara seperti itu, sudah pasti sangat menyebalkan:

“Rasanya seperti maling yang sedang diintrogasi”, gerutu salah satu pegawai purchasing yang pernah mengeluhkan karakter staff saya dahulu.

Mereka (orang-orang di luar accounting), sering tidak menyadari bahwa salah satu fungsi utama orang accounting adalah: menjaga akuntabilitas. Segala keputusan dan tindakannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Data yang mereka hasilkan harus benar-benar akurat dan mencerminkan penggunaan yang sesungguhnya. Belum lagi semua transaksi harus dikelompokan dengan cara yang sistematis.

Judgement yang akuntanbel dan akurat hanya bisa diperoleh dengan cara menghimpun informasi sebanyak-banyaknya, mempertimbangkan semua faktor, dan memandangan masalah dari semua sisi. Dan semua itu memerlukan karakter yang cerewet—banyak tanya.

Sehingga sekalilagi karakter cerewet inipun sesungguhnya positif dalam rangka menjalankan profesi sebagai akuntan atau pegawai accounting. Dan seperti pandangan miring lainnya, jangan sampai karakter cerewet ini dibawa sampai kekehidupan pribadi.

Akan sangat tidak sopan jika dalam percakapan dengan orang tua/mertua, anda yang mendominasi. Jadilah pendengar yang baik perhatikan apa yang diucapkan oleh istri/suami/ipar/anak atau anggota keluarga lainnya, lalu respon seperlunya.

Mungkin masih ada lebih banyak lagi sebutan miring tentang orang accounting. Tetapi secara keseluruhan, bisa saya katakan bahwa: sebagian besar dari pandangan miring tersebut sesungguhnya merupakan bentuk pengakuan bahwa anda memang orang accounting yang sesungghnya. Orang accounting yang memang pantas dipercaya dan diandalkan untuk mengelola dan mengadiministrasi keuangan perusahaan.

Ini bukan soal fanatisme profesi, samasekali bukan. Tetapi lebih pada pertanyaan krusial: apakah kita sudah menjalankan fungsi dasar yang memang seharusnya dijalankan? Apakah anda dan saya pantas menjalankan profesi di bidang accounting?

Jika selama ini anda merasa tidak nyaman karena pandangan miring tersebut, mulai hari ini, berbangga-hatilah. Jika selama ini anda kurang pelit, kurang assertive, kurang cerewet, mulai hari ini jadilah orang accounting yang super pelit, super kaku dan super cerewet. Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s