SEJARAH AKUNTANSI

Menurut para ahli ekonomi, akuntansi ada sejak manusia mengenal uang sebagai alat pembayaran yang sah. Pencatatan keluar masuknya uang, timbulnya hutang – piutang serta transaksi-transaksi lainnya dilakukan orang mula-mula di atas lempengan tanah liat, yang kemudian berkembang dengan menggunakan lontar. Naskah yang menggunakan lontar tersebut berasal dari negara Arab ( Mesir ), pada waktu itu Mesir merupakan Koloni ( Jajahan ) Romawi. Naskah tersebut hingga sekarang masih tersimpan dengan baik yang berasal dari Babilonia sejak tahun 3600 SM.

Setelah bangsa Romawi menemui kesulitan menggunakan angka-angka mereka sendiri didalam pencatatan akuntansi, maka kemudian mereka menggunakan angka Arab ( angka desimal ), yang pada waktu itu sudah dikenal oleh orang Mesir.

Evolusi akuntansi terjadi bersamaan dengan ditemukannya sistem pembukuan berpasangan ( DOUBLE – ENTRY SYSTEM ) oleh pedagang-pedagang Venesia yang merupakan pedagang yang terkenal dan ulung pada abad itu. Double – Entry merupakan pencatatan seluruh transaksi kedalam dua aspek yaitu ” debet dan kredit ” yang orientasinya selalu dalam keadaan seimbang.

Pada abad ke 15 tepatnya tahun 1494, akuntansi yang menggunakan angka Arab berkembang di Italia. Buku yang pertama diterbitkan oleh orang Italia tentang akuntansi baru muncul pada akhir abad ke 15, dimana buku ini merupakan hasil karya seorang Venesia yang juga seorang pemuka agama dan ahli matematika bernama Luca Pacioli. Buku ini berjudul “SUMMA DE ARITHMATICA, GEOMETRICA PROPORPIONI ET PROPORTIONALITA”. Bagian dari buku tersebut berisi tentang pelajaran ilmu pasti dan membahas tentang akuntansi berjudul “TRACTACUS DE COMPUTIS ET SCRIPTORIA” . Buku inilah yang kemudian tersebar di benua Eropa barat dan kemudian dikembangkan kembali oleh para ahli-ahli akuntansi sehingga timbulah beberapa sistem akuntansi dengan tetap mengacu pada metode yang digunakan oleh Luca Pacioli.

Sistem yang berkembang tersebut dinamakan sesuai dengan nama yang mengembangkannya atau nama negaranya masing-masing. Misalnya sistem Belanda ( Sistem Continental ) dan Amerika serikat ( Sistem Anglo Saxon ). Sistem-sistem tersebut kemudian berjalan sesuai dengan perkembangannya. Pada abad sekarang ini sistem yang paling banyak digunakan yaitu sistem Anglo Saxon, hal ini disebabkan karena sistem Anglo Saxon dapat digunakan untuk mencatat berbagai macam transaksi, sedangkan sistem yang lainnya agak sukar untuk digunakan. Hal ini disebakan karena sistem yang lain sering memisahkan antara pembukuan dengan akuntansi sedangkan dalam sistem Anglo Saxon, pembukuan merupakan bagian dari akuntansi.

Teori dan praktek akuntansi semakin berkembang pada abad ke 20 sejalan dengan perkembangan teknologi. seperti program-program akuntansi komputer yang semakin banyak beredar dipasaran pada saat ini.

LAPORAN LABA RUGI

Pengertian Laporan Laba-Rugi

Laporan Laba-Rugi adalah suatu bentuk laporan keuangan yang menyajikan informasi hasil usaha perusahaan yang isinya terdiri dari pendapatan usaha dan beban usaha untuk satu periode akuntansi tertentu.

Manfaat Laporan Laba Rugi

  1. Mengevaluasi kinerja masa lalu perusahaan. Kinerja perusahaan dapat diketahui dengan cara membandingkan besarnya pendapatan dan beban selama satu periode. Dengan mengetahui selisih antara pendapatan dan beban, para pemakai dapat menilai keberhasilan perusahaan dengan cara membandingkannya dengan perusahaan pesaing.
  2. Memberikan dasar untuk memprediksi kinerja masa depan. Informasi yang terdapat pada laporan laba rugi dapat digunakan untuk mengetahui kecenderungan pendapatan dan beban. Pendapatan yang terus meningkat merupakan indikator keberhasilan perusahaan. Dari kondisi ini para pemakai dapat memprediksi bagaimana kinerja perusahaan di masa depan.
  3. Membantu menilai resiko atau ketidakpastian pencapaian arus kas masa depan. Penyajian unsur- unsur laporan laba rugi dapat dipakai dalam menilai risiko kegagalan memperoleh arus kas tertentu di masa depan.

Unsur-unsur laporan laba-rugi, yaitu:
1. Pendapatan
2. Beban

3. Untung

4. Rugi

Bentuk Laporan Laba-Rugi

Laporan Laba-Rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu:

1. Bentuk Single Step atau Langsung

Semua pendapatan dikelompokkan tersendiri di bagian atas dan dijumlahkan, kemudian semua beban dikelompokkan tersendiri di bagian bawah dan dijumlahkan. Jumlah pendapatan dikurangi jumlah beban, selisihnya merupakan laba bersih atau rugi bersih.

2. Bentuk Multiple Step atau Tidak Langsung

Pendapatan dibedakan menjadi pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, demikian juga beban dibedakan menjadi beban usaha usaha dan beban di luar usaha. Pendapatan dan beban usaha disajikan pertama, pendapatan dan beban di luar usaha disajikan kemudian.

Langkah-langkah Penyusunan Laporan Laba-Rugi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun Laporan Laba-Rugi:

1. Judul Laporan

*Menuliskan nama perusahaan, nama laporan, dan periode laporan di tengah atas halaman

2. Isi Laporan

Bentuk single step:

* Menuliskan semua pendapatan.

* Menuliskan semua beban.

* Menghitung selisih pandapatan dan beban, jika pendapatan lebih besar dari pada beban maka selisihnya disebut laba bersih dan jika sebaliknya maka selisihnya disebut rugi bersih.

Bentuk multiple step

* Menuliskan pendapatan usaha.

*Menuliskan beban usaha.

* Menghitung selisih pandapatan dan beban usaha, jika pendapatan usaha lebih besar dari pada beban usaha maka selisihnya disebut laba usaha dan jika sebaliknya maka selisihnya disebut rugi usaha.

* Menuliskan pendapatan usaha.

* Menuliskan beban usaha.

* Menghitung selisih pandapatan dan beban usaha, jika pendapatan usaha lebih besar dari pada beban usaha maka selisihnya disebut laba usaha dan jika sebaliknya maka selisihnya disebut rugi usaha.

* Menuliskan pendapatan di luar usaha.

* Menuliskan beban di luar usaha.

* Menghitung selisih pendapatan dan beban di luar usaha, jika pendapatan di luar usaha lebih besar dari pada beban di luar usaha maka selisihnya disebut laba di luar usaha dan jika sebaliknya maka selisihnya disebut rugi di luar usaha.

* Menghitung laba (rugi) usaha dengan laba (rugi) di luar usaha, hasilnya disebut laba (rugi) bersih sebelum pajak.

* Laba bersih sebelum pajak dikurangi dengan pajak penghasilan yang dikenakan dan hasilnya disebut laba bersih setelah pajak.

CARA PENCATATAN JURNAL PENYESUAIAN

Tujuh transaksi yang diikuti oleh jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi adalah sebagai berikut.
1. pendapatan diterima di muka,
2. piutang pendapatan,
3. biaya dibayar di muka,
4. utang biaya,
5. kerugian piutang,
6. penyusutan, dan
7. biaya pemakaian perlengkapan.

Mencatat Jurnal Penyesuaian

Berikut ini adalah contoh data penyesuaian dan jurnalnya.
1. Pendapatan diterima di muka
Pendapatan diterima di muka adalah jika perusahaan menerima pendapatan atas suatu barang/jasa yang belum diserahkan.
Contoh:
Pada tanggal 3 Agustus 2008, Charity membayar sewa kios selama 1 tahun sebesar Rp6.000.000,00
Jurnal tanggal 3 Agustus 2008 adalah.
Kas Rp6.000.000
Pendapatan diterima di muka Rp6.000.000
(Dicatat oleh pemilik kios)

Pada waktu tutup buku tanggal 31 Desember 2008, jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut.
Pendapatan diterima di muka Rp2.500.000
Pendapatan sewa Rp2.500.000

Penjelasan :
Pada tanggal 3 Agustus 2008 pemilik kios menerima uang sebesar Rp6.000.000,00, tetapi bekum sepenuhnya menjadi hak pemilik kios, karena sewa tersebut untuk satu tahun, buka satu bulan. Karena pemilik kios sudah menerima secara tunai, bekiau mencatat Kas Rp6.000.000 (D) pada Pendapatan diterima di muka Rp6.000.000 (K).
Jika kita memakai dasar akrual, pendapatan diakui jika sudah menjadi haknya. Dalam contoh tersebut, hingga akhir periode akuntansi tanggal 31 Desember 2008 yang menjadi hak pemilik kioshanya 5 bulan, yaitu Rp2.500.000 (5/12 x Rp6.000.000= Rp2.500.000).

2. Piutang pendapatan
Piutang pendapatan adalah pendapatan yang belum diterima dan belum dicatat, tetapi sebagian sudah seharusnya diterima pada periode yang bersangkutan.
Contoh:
Tanggal 1 September 2008 PT X menyimpan uang di bank Pasifik Rp1.000.000, suku bunganya 18% / tahun dan bunga diterima oleh PT X setiap 6 bulan sekali. (tiap 1 Maret dan 1 September ). Ini berarti bunga 6 bulan pertama baru akan diterima tanggal 1 Maret 2009, sehingga sampai akhir periode akuntansi terdapat bunga yang diterima penendaannya selama 4 bulan. ( 1 September – 31 Desember) yaitu : 4/12 x 18% x Rp1.000.000,00 = Rp60.000

Jurnal penyesuaian untuk mencatat piutang bunga pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut.
Piutang bunga Rp60.000
Pendapatan bunga Rp60.000

3. Biaya dibayar di muka
Biaya dibayar di muka adalah biaya-biaya yang sudah dibayar pada awal periode untuk pembayaran biaya sampai beberapa periode yang ditentukan.
Contoh:
Pada tanggal 1 Mei 2008 pemilik kios membayar biaya asuransi untuk periode satu tahun kepada PT Aman sebesar Rp3.000.000
Pada tanggal 31 Desember 2008, saat pembuatan jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut.

Biaya asuransi Rp2.000.000
Asuransi dibayar di muka Rp2.000.000

Penjelasan :
Pada tanggal 31 Desember 2008 asuransi yang sudah terpakai (biaya asuransi) saebesar Rp2.000.000 yaitu selama 8 bulan, dari bulan Mei sampai dengan bulan Desember. Perhitungannya adalah 8/12 x Rp3.000.000= Rp2.000.000

4. Utang biaya
Utang biaya adalah biaya-biaya yang telah diakui tetapi belum dicatat.
Contoh:
Perusahaan membayar upah buruh setiap tiga hari sekali. Tarif upah Rp50.000 per hari. Para buruh dibayar tiap hari Senin. Ternyata tanggal 31 Desember 2008 jatuh pada hari Minggu. Ini berarti sampai akhir periode akuntansi terdapat upah yang belum dibayar selama tiga hari = 3 x Rp50.000 = Rp150.000

Jurnal penyesuaian yang dicatat perusahaan adalah.
Beban gaji Rp150.000
Utang gaji Rp150.000

5. Kerugian Piutang
Kerugian piutang adalah taksiran kerugian piutang yang timbul karena adanya piutang tak tertagih.
Contoh:
PT XYZ merelakan piutang Tuan B sebesar Rp200.000,00 karena usahanya bangkrut.

Jurnal penyesuaian yang dicatat PT XYZ pada tanggal 31 Desember 2008 adalah.
Cadangan kerugian piutang Rp200.000
Piutang usaha Rp200.000

6. Penyusutan
Semua aktiva tetap (kecuali tanah) yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dalam beroperasi, akan semakin menyusut nilainya bersamaan dengan berlalunya waktu.
Contoh :
Di daftar saldo, akun peralatan kantor memperlihatkan jumlah Rp2.000.000,00, diputuskan manajemen bahwa penyusutan 10% pertahun. Ini berarti penyusutan tiap tahun = 10% x Rp2.000.000 = Rp200.000

Jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut.
Beban penyusutan peralatan kantor Rp200.000
Akumulasi penyusutan peralatan kantor Rp200.000

7. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya pemakaian perlengkapan adalah nilai sebagian dari harga beli perlengkapan yang telah digunakan selama periode akuntansi.
Contoh:
Perlengkapan di daftar saldo memperlihatkan jumlah Rp500.000, setelah dihitung secara fisik persedeiaan perlengkapan pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp300.000. Ini berarti perlengkapan yang telah terpakai untuk kegiatan perusahaan berjumlah Rp200.000 (Rp500.000 – Rp300.000 = Rp200.000)

Jurnal penyesuaian untuk mencatat biaya pemakaian perlengkapan tanggal 31 Desember 2008 adalah.
Beban perlengkapan Rp200.000
Perlengkapan Rp200.000

PIUTANG

PENGERTIAN PIUTANG

Piutang merupakan klaim (hak untuk mendapatkan) uang dari entitas lain. Piutang juga disebut tagihan atau receivable. Menurut bukti pendukungnya piutang dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Piutang Wesel/Notes Receivable atau Wesel Tagih, yaitu tagihan yang didukung oleh instrument kredit resmi seperti Promes. Promes adalah janji tertulis untuk membayar uang pada tanggal tertentu tanpa syarat.
  2. Piutang Usaha Biasa yaitu tagihan yang didukung oleh bukti usaha biasa seperti faktur atau bukti bahwa perusahaan telah menjual barang/jasa ke pihak yang berhutang (debitur).

PIUTANG WESEL

Pengertian piutang wesel adalah piutang atau tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa secara tertulis, disertai dengan janji tertulis .

a.               Piutang wesel mempunyai kekuatan hukum yang lebih mengikat karena disertai janji tertulis berupa surat wesel atau surat promes.

b.               Surat wesel dan surat promes = istilah untuk perjanjian tertulis dalam jual beli barang atau jasa secara kredit.

c.               Surat wesel surat perintah yang dibuat oleh kreditur yang ditujukan kepada debitur untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat wesel tersebut.

d.               Pembuat surat wesel = Penarik wesel akan menerima sejumlah uang yang disebutkan dalam surat wesel tersebut dari debitur  ( pihak yang tertarik wesel ) pada tanggal yang telah ditentukan dalam surat wesel tersebut ( tanggal jatuh tempo wesel )

e.               Jika penarik wesel membutuhkan uang sebelum tanggal jatuh tempo maka surat wesel tadi dapat dipindah tangankan ( dijual = didiskontokan ) kepada pihak lain  / bank , asal saja surat wesel tersebut sudah ditandatangani oleh pihak tertarik ( debitur ) Penandatananan  / persetujuan dari debitur terhadap surat wesel yang bersangkutan disebut = AKSEPTASI

f.                 Surat promes = surat kesanggupan untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat promes tersebut.

 

Jenis piutang wesel :

1.              Piutang wesel tidak berbunga = piutang wesel yang tidak membebani bunga kepada pihak debitur, pada tanggal jatuh tempo jumlah uang yang diterima oleh pemegang wesel adalah sebesar nilai nominal ( nilai yang dinyatakan dalam surat wesel )

2.              piutang wesel berbunga = jumlah uang yang diterima oleh pemegang wesel / promes pada tanggal jatuh tempo adalah sebesar nilai nominal ditambah dengan bunga . Bunga piutang wesel biasanya dinyatakan dalam prosentase ( % ) dari nilai nominal piutang wesel

 

PIUTANG USAHA BIASA
Piutang dapat timbul karena menjual barang/jasa atau karena perusahaan memberi pinjaman ke perusahaan lain. Umumnya piutang dicatat pada saat timbulnya yaitu setelah perusahaan menyerahkan barang/jasa yang dijual.

Kerugian Piutang

Piutang memiliki resiko tidak tertagih sehingga timbul kerugian. Terdapat dua metode dalam akuntansi kerugian piutang, yaitu:

1.Metode Langsung. Jika metode ini yang digunakan, perusahaan tidak membentuk cadangan. Jika ada piutang yang dihapus, Kerugian Piutang didebet, dan rekening Piutang dikredit. Saldo rekening Kerugian Piutang pada akhir tahun disajikan dalam Laporan Laba Rugi.

2.Metode Cadangan/Penyisihan. Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama membentuk cadangan atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban Kerugian Piutang dan mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada akhir tahun, saldo rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba Rugi, sedangkan saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang Piutang.

Jika ada piutang yang dihapus, perusahaan tidak mengakui kerugian, sebab kerugian sudah diakui pada saat membentuk cadangan. Perusahaan mengurangi Cadangan dengan mendebet rekening Cadangan dan mengkredit rekening Piutang. Jika banyak penghapusan piutang, saldo Cadangan dapat habis, oleh karena itu setiap akhir tahun Cadangan disesuaikan. Jadi pencatatan kerugian piutang dilakukan pada saat:

  • pembentukan Cadangan dan
  • penyesuaian saldo Cadangan.

MENYIKAPI PANDANGAN MIRING TENTANG ORANG ACCOUNTING

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada hubungan tanpa cekcok. Apalagi ya? Tak ada profesi yang tidak mendapat pandangan ‘miring’. Apakah akuntan dan penggiat accounting boleh bebas dari premise yang satu ini? Jelas tidak. Disadari atau tidak, ada pandangan miring mengenai orang accounting—bahkan saya perkirakan sudah disandang sejak dibangku sekolah/kuliah.

Kabar bagusnya, sebagian besar pandangan miring tersebut sesungguhnya sangat positif—jika mau melihatnya lebih dalam, sekaligus bisa menjadi nilai jual tinggi—jika dikemas dengan baik. Dan ini sangat perlu untuk diketahui—terutama bagi teman-teman yang mudah ‘jatuh’ mental.

Nah apa saja pandangan miring tersebut dan bagimana menyikapinya—supaya berubah menjadi sesuatu yang positif, bahkan menjadi menguntungkan? Itu yang ingin saya share melalui tulisan ini. Samasekali tidak bermaksud menggurui, semata-mata hanya dalam konteks berbagi, tak lebih dan tak kurang.

(Catatan:pada dasarnya tidak pernah bermaksud memposisikan diri sebagai guru, melainkan sebagai tempat untuk berbagi dan berdiskusi di seputaran akuntansi, keuangan dan pajak).

Berikut ini adalah beberapa pandangan miring tentang orang accounting, sekaligus cara menyikapinya:

1. Orang Accounting itu RAJA/RATU PELIT!
Terlepas apakah dikotomi ‘pelit-atau-tak pelit’ ini penting atau tidak, pada kenyataannya ada anggapan bahwa: orang ekonomi rata-rata pelit. Nah kalau orang ekonomi dianggap rata-rata pelit, maka orang accounting adalah RAJA atau RATU-nya PELIT. Sudah berapa permintaan cash bon yang anda tolak?

“Susuk (uang kembalian belanja) permenpun dimasukan cash box, dasar ratu pelit!”, gerutu pegawai tukang belanja yang suatu ketika saya pergoki di lorong kantor. Hahahaha… .

Anggapan ‘orang-accounting-raja-dan-ratu-pelit’ ini sesungguhnya berangkat dari persepsi dasar bahwa orang accounting adalah orang-orang ekonomi ‘militan’. Dianggap militan karena accounting cenderung memang lebih rinci, lebih teknis jika dibandingkan dengan bidang lain di ekonomi (manajemen, misalnya), sudah mendekati ilmu murni.

Apakah sebutan ini buruk atau negatif? Saya justru ingin mengatakan: sebagai orang accounting, berbangga hatilah jika anda sampai dijuluki sebagai raja atau ratu pelit di kantor, apalagi jika sebutan itu datang dari atasan.

Mengapa harus bangga? Kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa “Pelit” adalah kodrat-nya orang accounting, di dalam perusahaan. Memang sudah seharusnya orang accounting itu pelit. Justru menjadi sangat aneh (bisa dibilang gagal) jika ada orang accounting yang tidak pelit. Bayangkan jika orang accounting tidak pelit:

* Pegawai minta cash bond lebih dari gajinya, dikasih.
* Vendor minta dibayar dimuka, padahal barangnya belum dikirim, dikasih.
* Pelanggan tidak bayar berbulan-bulan, padahal perusahan sudah kehabisan kas, dikasih.
* Pegawai belanja, uang kembaliannya dipakai buat jajan, dikasih.

Lho iya dong, kan supaya tidak pelit. Apa yang terjadi? Mungkin perusahaan segera ‘gulung-tikar’. Oleh sebab itu, berbanggalah mendapat julukan RAJA/RATU PELIT di kantor.

Yang penting jangan sampai cap raja/ratu pelit tersebut merembet ke wilayah pribadi. Pastinya akan tidak nyaman jika sampai mertuapun menyebut kita orang pelit. Atau sahabat dekat menganggap diri kita sebagai orang yang ‘perhitungan’—apa-apa maunya balance (ditraktir sekali, langsung balas traktir sekali):

* Sekali-kali traktir teman nonton setelah pulang kerja
* Sekali-kali bayarain teman makan di kantin, meskipun anda belum pernah di traktir
* Sekali-kali bawa oleh-oleh untuk mertua atau ipar, meskipun mereka tak pernah bawa oleh-oleh untuk anda.
* Sekali-kali jangan periksa isi dompet suami

Dan yang tak kalah pentingnya: sekali-kali manjakan diri sendiri dengan menikmati waktu atau beli sesuatu yang sangat diinginkan—mungkin pergi ke spa, atau shop till drop di akhir pekan. Bukan saja untuk mencegah kesan ‘ratu pelit’ lari ke ranah pribadi, tetapi pada kenyataannya anda memang berhak menikmati hasil kerja keras selama ini, bukan?

Sekalilagi dicap raja/ratu pelit di kantor—dalam artian, untuk urusan perusahaan, adalah hal yang positif. Jika anda tergolong ‘kurang pelit’, mulai sekarang biasakanlah untuk pelit. Itu sudah menjadi fungsi dasar anda di dalam perusahaan—untuk menjaga agar operasional perusahaan selalu mulus. Utamakan pengeluaran untuk aktivitas yang memberi nilai tambah, dan batasi pengeluaran yang tidak memberi nilai tambah.

2. Orang Accounting itu KAKU!
Pandangan miring berikutnya adalah: orang accounting itu rata-rata kaku—alias tidak fleksibel. Tidak mau kompromi, sekali bilang tidak bisa tetap tidak bisa. Apakah ini sesuatu yang negatif?

Tidak. Saya melihat karakter ini sebagai karakter yang assertive—memiliki pendirian yang teguh. Sebagai atasan, saya akan sangat kecewa jika suatu ketika menemukan staff saya di accounting berani melanggar kebijakan dan prosedur perusahaan.

Untuk sesuatu yang memang tdak diperbolehkan, harus tetap tidak diperbolehkan, meski apapun yang terjadi. Karakter dasar assertive (mungkin orang di luar memandang ini sebagai sifat yang kaku) sudah seharusnya dimiliki oleh orang accounting.

Oleh sebab itu, jika ada diantara teman-teman accounting yang masih lentur—mudah diseret kesana-kemari, mulai sekarang latih diri untuk bisa assertive. Caranya? Belajar mengatakan “Tidak”. Untuk di awal-awal, usahakan jawaban anda selalu tidak untuk apapun yang orang lain katakan:

* “Minta ini dong…” jawab: “tidak bisa!”
* “Boleh minta…” jawab: “tidak boleh!”
* “Tapi Pak A bilang…..” jawab: “tetap tidak bisa/tidak boleh!”

Nah kalau sudah mahir mengatakan tidak, baru pelan-pelan dilonggarkan—pilah-pilah, kapan saatnya bilang “tidak” dan kapan saatnya bilang ‘iya”.

Tetapi sama seperti pandangan miring sebelumnya (raja/ratu pelit), jangan sampai sikap assertive (kaku) ini terlalu mendominasi di wilayah pribadi. Ada sesuat yang dalam kehidupan pribadi (mau-atau-tidak mau) harus dikompromiskan—terkadang harus mengalah.

* Sesekali katakan ‘iya’ ketika suami/istri di rumah mengusulkan untuk makan malam di rumah makan favoritnya, meskipun mungkin itu bukan tempat makan favorit anda.
* Sesekali bantu teman yang sedang kerepotan membawa barang belanjaan di mall.
* Sesekali biarkan istri santai-santai, gantikan tugasnya untuk memasak atau membersihkan rumah di akhir pekan.
* Dan lain sebagainya.

3. Orang Accounting Itu CEREWET!
Sudah menjadi karakter dasar orang accounting untuk tidak mudah percaya begitu saja terhadap banyak hal—terutama sekali dengan transaksi keuangan yang mungkin nilainya ratusan juta jika tidak miliran setiap harinya.

Serinkali bukti transaksi saja tidak cukup bagi orang accounting. Sudah diberi nota masih bertanya—ini belanja untuk apa? Sudah ada approvalnya belum? Siapa yang menyetujui? Mana barangnya? Seberapa sering belanja barang beginian? Berapa lama barang ini dipakai? Apakah sparepartnya mahal atau murah? Susah atau gampang carinya? Pokoknya buanyak bener dah pertanyaannya.

Bagi orang yang tidak biasa menghadapi orang accounting, dicecar pertanyaan dengan cara seperti itu, sudah pasti sangat menyebalkan:

“Rasanya seperti maling yang sedang diintrogasi”, gerutu salah satu pegawai purchasing yang pernah mengeluhkan karakter staff saya dahulu.

Mereka (orang-orang di luar accounting), sering tidak menyadari bahwa salah satu fungsi utama orang accounting adalah: menjaga akuntabilitas. Segala keputusan dan tindakannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Data yang mereka hasilkan harus benar-benar akurat dan mencerminkan penggunaan yang sesungguhnya. Belum lagi semua transaksi harus dikelompokan dengan cara yang sistematis.

Judgement yang akuntanbel dan akurat hanya bisa diperoleh dengan cara menghimpun informasi sebanyak-banyaknya, mempertimbangkan semua faktor, dan memandangan masalah dari semua sisi. Dan semua itu memerlukan karakter yang cerewet—banyak tanya.

Sehingga sekalilagi karakter cerewet inipun sesungguhnya positif dalam rangka menjalankan profesi sebagai akuntan atau pegawai accounting. Dan seperti pandangan miring lainnya, jangan sampai karakter cerewet ini dibawa sampai kekehidupan pribadi.

Akan sangat tidak sopan jika dalam percakapan dengan orang tua/mertua, anda yang mendominasi. Jadilah pendengar yang baik perhatikan apa yang diucapkan oleh istri/suami/ipar/anak atau anggota keluarga lainnya, lalu respon seperlunya.

Mungkin masih ada lebih banyak lagi sebutan miring tentang orang accounting. Tetapi secara keseluruhan, bisa saya katakan bahwa: sebagian besar dari pandangan miring tersebut sesungguhnya merupakan bentuk pengakuan bahwa anda memang orang accounting yang sesungghnya. Orang accounting yang memang pantas dipercaya dan diandalkan untuk mengelola dan mengadiministrasi keuangan perusahaan.

Ini bukan soal fanatisme profesi, samasekali bukan. Tetapi lebih pada pertanyaan krusial: apakah kita sudah menjalankan fungsi dasar yang memang seharusnya dijalankan? Apakah anda dan saya pantas menjalankan profesi di bidang accounting?

Jika selama ini anda merasa tidak nyaman karena pandangan miring tersebut, mulai hari ini, berbangga-hatilah. Jika selama ini anda kurang pelit, kurang assertive, kurang cerewet, mulai hari ini jadilah orang accounting yang super pelit, super kaku dan super cerewet. Setuju?

INGIN LEBIH DARI SEKEDAR TUKANG JURNAL ?

Pertama Menjadi Pegawai Accounting

Bisa dibilang tahun pertama lewat tanpa terasa, habis hanya untuk membiasakan diri dalam menghadapi pekerjaan sungguhan—setelah bertahun-tahun belajar teori dan konsep di kampus. Tak banyak perubahan; gaji masih kecil, masih sering diomeli atasan, dan khusus di accounting yang pasti masih jadi mengerjakan data entry, pengimput data, alias “tukang jurnal!”
Saya pikir itu wajar. Mana mungkin ada perusahaan yang berani menyerahkan urusan keuangan, lebih dari sekedar mencatat (menjurnal), kepada pegawai akuntansi yang baru bekerja satu tahun. Mengelola keuangan suatu perusahaan memang bukan urusan yang mudah. Salah-salah, bisa menimbulkan kerugian.

Apakah di tahun kedua sudah pasti ada kenaikan jenjang karir?

Belum tentu. Tergantung perkembangan kemajuan yang telah dicapai selama tahun pertama. Dari sekian banyak pegawai accounting yang pernah jadi bawahan saya, sebagian besar dari mereka, di tahun kedua dan ketiga masih berkutat (berusaha keras) memahami beberapa perlakuan khusus dari transaksi-transaksi khusus yang mungkin selama di tahun pertama belum terjadi.

Beberapa perlakuan akuntansi yang biasanya belum sungguh-sungguh dipahami (masih mengalami kesulitan pemahaman) antara lain:

* Alokasi biaya overhead ke masing-masing produk – Akuntansi biaya (untuk manufaktur)
* Hubungan antara Harga pokok produksi dengan harga pokok penjualan (untuk manufaktur)
* Transaksi yang melibatkan mata uang asing (foreign currency accounting)
* Kapitalisasi biaya terkait dengan aktiva tak berwujud (intangible asset)
* Transfer pricing (untuk perusahaan yang memiliki subsidiary/cabang)
* Budgeting (capital dan operasional)
* Perlakuan biaya terkait dengan aktivitas import
* Penurunan nilai (impairment), revaluasi, dan write-off
* Membuat laporan arus kas—yang sering dibingungkan antara penganggaran kas, transaksi kas (atau setara), dan laporan arus kas itu sendiri.
* Perlakuan dan penyajian laporan atas ordinary items

Dan masih banyak lagi lainnya—variatif, tergantung apa bidang usaha perusahaan ditempatnya bekerja. Yang paling banyak dan sering terjadi adalah: kesulitan memahami hubungan antara ‘Laporan Laba Rugi’ dengan ‘Neraca’.

Kesulitan memahami hubungan antara laporan laba rugi dengan neraca mengakibatkan kesulitan-kesulitan lainnya yang sifatnya sangat fundamental, antara lain: tidah bisa membuat jurnal koreksi bila kesalahan diketahui setelah tutup buku.

Misalnya: PT. JAK tutup buku setiap tanggal 31 Desember. Tanggal 10 Januari 2012 disadari bahwa biaya listrik periode 2011 diakui terlalu besar. Mereka tidak tahu akun apa yang harus didebit dan dikredit untuk memperbaiki kesalahan itu, karena akun biaya listrik sudah ditutup, saldo buku besarnya sudah nol.

Kasus seperti ini biasanya terjadi apabila ditahun pertama, proses tutup buku dilakukan oleh atasan—atau akuntan dari luar. Maka sebaiknya kita selalu melibatkan semua pegawai yang ada di bagian accounting setiap kali melakukan tutup buku—meskipun itu tidak ada di job deskripsinya. Dengan demikian, semua pagawai accounting mendapat kesempatan yang sama untuk belajar memahami proses tutup buku.

Keterampilan atau kemahiran menguasai perlakuan akuntansi yang sifatnya spesifik seperti yang sudah saya sebutkan, dalam dunia pengembangan karir disebut dengan ‘keterampilan teknis’ atau bahasa kerennya ‘hardskill”.

Terus Di Accounting Atau Alih Profesi?

Kesulitan menguasai hardskill—menangani perlakuan akuntansi dari yang bersifat umum hingga spesifik, tentu saja menimbulkan beban sekaligus tekanan mental. Bagimana tidak, sebagian fungsi (tugas) utama sebagai orang accounting menjadi tidak bisa ditunaikan dengan baik karena sebagian keterampilan teknis (hardskill) belum dikuasai.

Dan, reaksi pegawai accounting terhadap tekanan dan beban mental tersebut berbeda antara yang satu dengan lainnya:

1. Banting Setir (alias alih profesi) – Tak tahan oleh tekanan dan tuntutan pekerjaan yang dirasa semakin kompleks, akhirnya memilih untuk mengatakan “enough!—cukup sudah stress yang aku alami”. Mulai melirik peluang lain di luar accounting, mulai mencar-cari lowongan pekerjaan di bidang lain yang masih terkait dengan keuangan. Yang paling banyak terjadi adalah bergeser ke wilayah manajemen, misalnya: manajemen risk (risk manajemen), credit analyst, bahkan ada yang sampai menjadi collector. Bila perempuan biasanya larinya ke pekerjaan-pekerjaan secretariat, hingga ke personal assistant. Tentu. Tidak ada yang salah dengan alih profesi. Jika memang itu lebih baik, kenapa tidak? Iya kan? Hanya saja, setelah itu biasanya ilmu akuntansi yang dipelajari selama bertahun-tahun di bangku kuliah lenyap begitu saja. Nyaris tak berbekas. Sayang bukan?

2. Masa Bodo – Tak kalah banyaknya dibandingkan mereka yang memilih ganti haluan adalah sikap masa bodo. Merasa cukup hanya sampai menjadi tukang jurnal saja. Sehingga dari tahun-ke-tahun, masih tetap di posisi semula. Misalnya: masuk sebagai pegawai data entry, selamanya jadi tukang entry data. Masuk di bagian AP, selamanya dia hanya mengurusi Accounts Payable saja. Dan lain sebagainya. Intinya, karir mereka jalan di tempat! Sangat patut disayangkan.

3. Merasa Tertantang – Yang memiliki mental kuat—tahan stress dan memiliki kemauan yang cukup keras untuk belajar, biasanya akan merasa tertantang. Tantangan itu kemudian dijawab dengan mulai mencari informasi kesana kemari. Yang paling banyak dilakukan adalah membuka-buka kembali buku-buku akuntansinya di masa kuliah dahulu—terutama intermediate-advance accounting, cost accounting, termasuk mencari-cari informasi di internet (seperti di JAK). Yang seperti inilah yang memiliki potensi besar untuk maju, mengalami peningkatan karir dalam waktu yang relative lebih cepat.

Penguasaan Hardskill Accounting Adalah Modal Dasar

Merasa tertantang sehingga terus berusaha memeperbaiki diri dan meningkatkan hardskill, adalah modal awal untuk menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Dan itu berlaku di semua bidang—bukan hanya di accounting.

Kemampuan seseorang untuk meingkatkan hardskill bergantung pada 2 faktor dasar berikut ini:

1. Kemauan dan Keinginan – Ini yang paling mutlak harus ada sejak diawal. Kemauan yang cukup kuat untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Keinginan untuk menjadi seorang akuntan yang lebih dari sekedar tukang jurnal. Pada dasarnya, tak ada kemajuan apapun yang bisa dicapai tanpa proses belajar. Tentu, yang namanya proses belajar tidak selalu di ruang kuliah, seminar atau workshop. Proses belajar bisa terjadi dari setiap aktivitas pekerjaan akuntansi yang dilakukan. Dan berhasil atau tidaknya sangat tergantung pada kemauan dan keinginan.

2. Rasa Percaya Diri – Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa, rasa percaya diri besar pengaruhnya terhadap setiap kemajuan yang ingin dicapai. Tanpa rasa percaya diri yang cukup, seseorang akan menjadi sangat mudah untuk berpikir “ah.. sepertinya aku memang tidak berbakat di bidang akuntansi”, lalu menyerah. Obat paling ampuh untuk ini adalah: tekad “aku bisa”. Tekad yang perlu ditanamkan pada diri sendiri, sehingga setiap kegagalan (yang sudah pasti sering terjadi) selalu bisa dipandang sebagai bagian dari proses belajar—proses menuju ‘bisa’ yang sudah dijadikan tekad.

Dua faktor dasar tersebut hanya modal dasar. Modal dasar untuk bisa tetap berada di jalur yang sama, yaitu: akuntansi (accounting). Siap untuk menapakan kaki di jenjang karir yang lebih tinggi, dengan tantangan yang lebih besar dan kompleks tentunya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Karir Selanjutnya

Pendidikan akuntansi, pengalaman di tahun-tahun pertama, dan penguasaan terhadap keterapilan-keterampilan teknis akuntansi baru langkah pertama. Pada titik ini, seseorang yang berkarir di bidang akuntansi dan keuangan biasanya sudah siap untuk menduduki posisi setingkat supervisor.

Selanjutnya, urusan seberapa cepat perkembangan karir di accounting, dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya adalah: TINGKAT KECERDASAN, baik itu kecerdasan logika maupun emosional.

Diakui atau tidak, pada kenyataannya kecerdasan memang berpengaruh pada kecepatan perkembangan karir seseorang. Ada seseorang yang cukup sekali menjalankan jenis pekerjaan tertentu, dia sudah belajar sesuatu—dan langsung menguasainya. Tetapi ada orang lainnya yang untuk menguasai pekerjaan yang sama perlu berkali-kali menjalankannya. Sehingga waktu yang dikonsumsi menjadi berbeda.

Dan, kecepatan ini hanya tercapai bila hardskill (keterampilan-keterampilan teknis) sudah sangat dikuasai. Ibarat belajar naik sepeda, sudah bisa berjalan dengan kecepatan penuh tanpa terjatuh.

Mereka yang mampu menguasai teknis pekerjaan dengan lebih cepat, memiliki peluang lebih besar untuk memepelajari hal-hal lainnya, termasuk kemampuan mengasah kemampuan ANALITIS (analytic) dan PENILAIAN (judgement). Dua kemampuan ini adalah sayarat utama untuk memasukai ‘management-level’.

Bandingkan: Si A (posisi Accounts Payable Supervisor) yang sudah menguasai teknis pekerjaan di AP, memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan si B (posisi Accounts Receivable Supervisor).

Sementara si B masih berkutat untuk menangani banyaknya invoice yang tercecer, urusan AP si A sudah beres—sehingga dia memiliki waktu yang cukup untuk mengidentifikasi vendor mana yang selalu mengirimkan barang tepat waktu dengan tingkat retur yang rendah. Si A juga sempat membuat ranking vendor. Hasil analisanya selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan pemeblian oleh perusahaan.

Nah, antara si A dan si B, mana yang lebih berpotensi menjadi chief accounting atau accounting manager? Sudah pasti si A, bukan si B yang masih saja sibuk mengurusi invoice. Si A sudah menjalankan fungsi yang lebih dari sekedar tukang jurnal, lebih dari sekedar memasukan data ke dalam pembukuan.

Tentu aktivitas di accounting bukan hanya AP dan AR. Penguasan pekerjaan-pekerjaan teknis mempengaruhi kecepatan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya teknis. Sekaligus membuka peluang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya analitis, dan judgmental.

Mau Jadi Ahlinya?

Dengan kemampuan mengelola dan menganalisa, sudah cukup untuk memasuki jenjang manajer. Level selanjutnya adalah ‘executive’. Di Accounting dan keuangan, posisi yang sudah tergolong executive level adalah: Controller dan Treasurer ke atas, hingga Chief Financial Officer (CFO). Dan untuk mencapai posisi ini yang dibuthuhkan bukan hanya skill atau keterampilan, melainkan KEAHLIAN (expertise).

Untuk menduduki posisi executive-level, anda harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Dan kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah berstatus AHLI (expert).

Seorang ahli (expert) di bidang accounting dan keuangan menguasai segala hal terkait dengan aspek accounting dan keuangan. Mampu menangkap suatu masalah di dalam perusahaan hanya dari membaca laporan tertentu (khususnya laporan keuangan) dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Sekaligus mampu menyediakan solusi ampuh untuk menghentikan masalah tersebut.

Kemampuan seperti itu hanya terlahir dari proses pembelajaran yang panjang. Belajar dari buku, pekerjaan dan pengalaman secara terus-menerus dari waktu-ke-waktu. Ada banyak hal yang dipelajarinya: mulai dari accounting standard hingga teknologi akuntansi terkini, dari hukum pajak hingga business practice, dari project management hingga psikologi perilaku.

Sudah pasti bukan sesuatu hal yang mudah. Bukan sesuatu yang bisa diraih secara instant. Tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Selama ada kemauan untuk terus belajar (tidak cepat merasa pintar) dan bekerja (tidak cepat merasa berjasa), saya yakin kesempatan dan peluang itu selalu terbuka. Terbuka bagi siapapun yang ingin mencapainya, termasuk saya dan anda tentunya.

THIS IS ACCOUNTING ALL ABOUT

Merupakan hubungan antara aktiva, kewajiban, dan modal yang dinyatakan dalam suatu persamaan dasar akuntansi:

Aktiva = Kewajiban + Modal

Setelah dimasukkan unsur pendapatan dan modal maka menjadi

Aktiva = Kewajiban + Modal + Pendapatan – Beban

Aktiva + Beban = Kewajiban + Modal + Pendapatan

Aktiva

Biasa disebut: harta

Merupakan: kekayaan yang dimiliki perusahaan, sumber daya bagi perusahaan untuk melakukan usaha

Kewajiban

Biasa disebut: Hutang

Adalah sumber pembelanjaan perusahaan yang berasal dari kreditur

Modal

Merupakan sumber pembelanjaan perusahaan yang berasal dari pemilik

Pendapatan

Adalah jumlah yang dibebankan kepada langganan untuk barang dan jasa yang dijual

Sebagai kenaikan bruto dalam modal atau diterimanya suatu aktiva dari langganan yang berasal dari barang dan jasa yang dijual

Beban

Adalah penurunan dalam modal pemilik, biasanya melalui pengeluaran uang atau penggunaan aktiva yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk memperoleh pendapatan

PERKIRAAN AKUNTANSI

Adalah formulir untuk mencatat dan melakukan klasifikasi terhadap persamaan akuntansi menurut sifat-sifatnya sebagai aktiva, kewajiban, modal, beban, dan pendapatan.

Berdasarkan bentuk terdiri dari:

  • Sisi sebelah kiri, disebut: Debet (aktiva+beban)
  • Sisi sebelah kanan, disebut: Kredit (kewajiban+modal+pendapatan)

Terdapat aturan Debet dan Kredit

Artinya: penambahan atau pengurangan yang terjadi dalam perkiraan dapat dinyatakan dalam debet atau kredit.

Jumlah penambahan yang dicatat dalam suatu perkiraan biasanya sama atau lebih besar dari jumlah pengurangannya, sehingga saldo normal semua perkiraan adalah positif

Terdiri dari:

Perkiraan Riil

Disebut: Perkiraan Neraca

Terdiri dari: Aktiva, Utang, dan Modal

Perkiraan Nominal

Disebut: Perkiraan Rugi Laba

Terdiri dari: Beban dan Pendapatan

SIKLUS AKUNTANSI

Merupakan tahapan urutan transaksi dan peristiwa kegiatan akuntansi dari awal sampai akhir periode akuntansi secara tidak terputus.

Terdiri dari:

Tahap Pencatatan: Dokumen transaksi, Jurnal, Buku besar, dan Neraca saldo

Tahap pengiktisaran: Ayat jurnal penyesuaian, Jurnal pembalik, dan Neraca lajur

Tahap Pelaporan: Laporan keuangan, Jurnal penutup, dan Neraca saldo setelah penutupan

Dokumen transaksi

Merupakan: langkah awal siklus akuntansi

dokumen yang berupa transaksi dan peristiwa yang terjadi yang mempengaruhi posisi keuangan perusahaan, misal: bon, kuitansi, formulir, dll.

Jurnal

Adalah buku harian untuk mencatat transaksi keuangan menurut urutan tanggal ke dalam kelompok akun debet dan akun kredit.

Mengapa diperlukan? Karena dengan jurnal sudah lebih dulu

dianalisa apakah itu akan berakibat bertambahnya atau berkurangnya satu atau lebih perkiraan

dianalisa jumlah yang harus dicatat kepada satu perkiraan atau lebih

dianalisa apakah satu/atau lebih perkiraan di Debet atau Kredit

dianalisa bahwa akibatsuatu transaksi jumlah jangka Rupiah yang harus di Debet dengan yang harus di Kredit harus sama

dapat dibuatdapat dibuat tanda/reference bahwa suatu jumlah telah diposting ke perkiraan yang sesuai dengan di buku besar. Sesuai dengan nomor perkiraan

Buku Besar

Merupakan daftar transakasi secara kronologis yang berupa pengelompokkan masing-masing perkiraan.

Proses pengelompokkan akun dari jurnal ke buku besar disebut posting

Neraca Saldo

Merupakan pengelompokkan saldo akhir didalam buku besar

Fungsi: mengevaluasi adanya kesalahan posting atau penjurnalan melalui ketidaksamaan antara debet dan kredit.

Ayat Jurnal Penyesuaian (AJP)

Memerlukan konsep penandingan yang mendukung pelaporan pendapatan dan beban terkait dalam periode yang sama.

Melibatkan sekurang-kurangnya satu perkiraan laba/rugi dan satu perkiraan neraca.

Misal: proses biaya menjadi beban

Jurnal Pembalik

Diperlukan untuk menghindari pengakuan pendapatan dan beban berganda karena penyusunan AJP.

Neraca Lajur

Merupakan langkah optional untuk membantu penyusunan laporan keuangan.

Terdiri dari 10 kolom, yaitu: neraca saldo, ajp, neraca saldo setelah penyesuaian, laporan l/r, neraca; masing-masing terdiri dari sisi debet dan kredit

Laporan Keuangan

Disusun berurutan dari laporan l/r, laporan perubahan modal, neraca, arus kas guna menjelaskan keterkaitan antara laporan keuangan.

Jurnal Penutup

Diperlukan untuk menihilkan nilai perkiraan pada kelompok: penghasilan, beban, ikhtisar l/r, dan prive; pada awal periode berikutnya sehingga dapat menggambarkan kinerja perusahaan masing-masing periode.

Neraca Saldo Setelah Penutupan

Berisi perkiraan riil (perkiraan yang dilaporkan neraca) yang tidak dinihilkan.